CATATAN HAYDAR ALI: Eny Sagita

Teknologi

More on this category »
Tampilkan postingan dengan label Eny Sagita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Eny Sagita. Tampilkan semua postingan

Profil Sagita (Orkes Melayu Sagita)

Perkembangan musik dangdut terutama dangdut koplo akhir-akhir ini terbilang sangat pesat, in di tandai dengan makin banyaknya orkes dangdut baru yang bermunculan. Dari beberapa orkes dangdut baru yang namanya melejit mungkin adalah om sagita. Orkes dangdut ini sekarang bisa di bilang sangat terkenal, tidak kalah dengan terkenalnya 7 icon atau sherebele hee.....

Om sagita adalah sebuah grup orkes dangdut yang berasal dari daerah pace kab nganjuk, berbeda dengan beberapa orkes dangdut yang sudah terkenal sebelumnya yang banyak berasal dari sidoarjo atau gresik. Walaupun dari sebuah kota kecil nama om sagita kini bisa di bilang sudah sejajar dengan orkes lainnya.

Setiap orkes dandut memiliki ciri khas masing-masing, mungkin om monata sangat khas dengan keberadaan sodiq yang unik, om sera dengan musik elektriknya, om sagita juga memiliki ciri khas yang sangat unik dan menarik. Kendang yang di gunakan om sagita di tambah dengan kendang tradisional yang membuat musik om sagita mudah di kenali dan menarik.

Saat ini kita akan dengan mudah menemukan CD atau dokumentasi manggungnya om sagita, dangan lagu ngamen yang ber seri-seri om sagita makin di kenal luas. Selain mempopulerkan lagu ngamen dengan versi om sagita, orkes yang satu ini juga sangat di kenal dengan kata assolole (entah apa arti kata assolole itu). Kata assolole kini sangat identik dengan orkes dangdut baik om sagita atau orkes-orkes lainnya.

Untuk bisa melihat om sagita terus menghibur kita, rasanya kita harus membantu mereka (juga) dengan cara membeli CD mereka yang asli dan juga bertindak baik dan tidak rusuh ketika kita nonton mereka manggung



Pelopor Musik Dangdut Jaranan ini adalahMerperkenalkan Musik Dangdut Yang Lagi Booming di Jawa Timur
Musik Dangdut Jaranan
Aransemen Musik Dangdut yang semi gamelan jaranan


Pelopor Musik Dangdut Jaranan ini adalah
SAGITA Music Entertainer
Group Musik ini bersasal dari Kabupaten Nganjuk - Jawa Timur, salah satu kabupaten kecil di jawa timur. Aliran musik Dangdut Jaranan ini dapat mengisi kebosanan masyarakat Jatim dengan musik dangdut yang monoton itu-itu saja, alhasil dalam waktu kurang dari satu tahun Group ini naik daun hingga terkenal di Jawa Timur bahkan di luar jawa pun udah mulai banyak yang menginginkan SAGITA ini manggung disana. Sampai di negara Malaysia pun DVD/VCD group SAGITA ini laris manis biarpun lewat jalur tidak resmi alias kaset bajakan. Group yang sering mengucapkan kata "Asolole" dan "Icik-icik ehem.." ini seakan dapat menghipnotis para penggemar dangdut dari berbagai usia. " Semoga musik dangdut dapat terus Jaya dinegeri asal sendiri, tanpa dinodai oleh nilai - nilai negatif" harapan Group Sagita.


Sagita adalah pelopor Musik Kreasi Yang Berasal dari kota Nganjuk,Musik yang Mereka Mainkan Merupakan Hasil Kreasi Jaranan Yang Di padukan Dengan Musik Dangduth ,Lalu Sagita Mengibarkan Bendera Dengan Label SAGITA DJANDUTH,,SAGITA Mempunyai Salam Khas untuk Menyapa Para Penggemarnya Dengan Bahasa Khas Orang Nganjuk Yaitu :"Asolole"
Alamat :

* Desa Pace ,Jln:Pasar Pace (barat pasar Pace)
* Kecamatan Pace
* Kabupaten Nganjuk
* Jawa Timur

Personil SAGITA:
* ENY SAGITA : Vocal & Mbak Boss
* INDAH ANDIRA : Vocal
* RINA AMELIA : Vocal
* KETENK : Guitar Rhytem
* YASIR : Guitar Melodi
* MALIK : Gendang Ketipung
* SAIFUL/Bolang :Keyboard
* KHOIRUL : Suling,Terompet & Vocal
* BUDI :Master Of Ceremony (MC)

Eny Sagita (Kumpulan Foto Eny Sagita)




ada awal terbentuknya Sagita pada 16 Oktober 2009 atau kini sudah berusia dua tahun itu tidak jauh beda dengan orkes melayu (OM)/kelompok dangdut pada umumnya. Bahkan, awalnya kelompok musik Sagita belum dikatakan sebagai kelompok musik sebuah orkes melayu karena masih berkelas sebagai orkes elektone. Mereka selalu tampil dalam sebuah acara resepsi pernikahan, arena rapat, hari ulang tahun sebuah instansi, dan sebagainya.

Namun, rupanya seiring dengan berjalannya waktu, kelompok Sagita tidak puas dengan kondisi yang itu itu saja. Mereka pun mencoba meningkatkan kelas popularitasnya. Dari hasil berbagai eksperimen, akhirnya diambil sebuah terobosan kreatif, yaitu mengolaborasikan musik dangdut dengan kesenian tradisional kuda lumping (jaranan) asli Nganjuk. Karena itu, sekarang musik racikan Sagita sangat kental dengan terompet tradisional dan pukulan kendang.

“Setelah melalui perhitungan dan pencocokan peralatan musik yang ada, lahirlah sebuah musik dangdut jaranan dari kelompok musik Sagita,” kata humas Sagita, Hendri Pepenk, ketika ditemui di belakang panggung di Nganjuk.

Memang, di kalangan masyarakat sebetulnya musik jaranan identik dengan ilmu supranatural. Itu dikarenakan setiap penampilan kesenian jaranan para penarinya selalu kesurupan. Tetapi, subgenre dangdut ini, djanduth, aroma mistik itu hilang. Yang ada dorongan kuat untuk berjoget mengikuti goyangan penyanyi di atas panggung.

Terlebih lagi, kelompok musik Sagita yang selalu menampilkan penyanyi Eny Setyaningsih dengan nama beken Eny Sagita, dengan lagu-lagu ala pengamen, karena memang diciptakan oleh para pengamen tersebut semakin banyak diminati masyarakat. Suguhan musik jenis baru dengan lagu sedikit nakal dan jenaka terus melambungkan nama Djandhut Sagita.

Tak hanya lagu berlirik nakal yang didendangkan Eny dan kawan-kawannya. Mereka juga menyanyikan ulang lagu-lagu dangdut yang sudah terkenal lebih dulu. Namun, tentu saja tetap dengan gaya Sagita. Irama dangdut yang tegas dengan ketukan kendang yang monoton. Rasa baru dangdut ala Sagita itu tetap menarik penonton untuk bergoyang.

“Kami memang berusaha menampilkan aransemen musik berbeda, dan itulah mungkin mengapa Sagita sangat disuka oleh masyarakat sekarang ini,” ucap Pepenk.

Soal assololey yang banyak diperdebatkan dalam forum-forum di internet, antara lain, disebut punya konotasi jorok, Pepenk menjawab enteng.

“Ya bolehlah assololey itu dianggap pemendekan dari ungkapan asoi pakde ataupun diartikan yang macam-macam, tetapi yang jelas munculnya salam asololey yang kini menjadi salam khas Sagita lahir dari mulut Eny Sagita,” tandas Pepenk.

Memang selama ini, di sela-sela menyanyi, Eny kerap melontarkan kata ‘assololey’. Istilah yang akrab bagi Sagita Mania (kelompok penggemar Sagita) bisa berarti banyak. Kadang berarti salam pembuka, salam penutup, atau yang lainnya. Yang menarik, assololey selalu dilontarkan Eny ketika ia melihat massa pendukungnya mulai ribut dan saling pukul. Begitu salam assololey dilontarkan Eny, penonton pun berhenti baku pukul dan kembali berjoget. “Jadi boleh dibilang assololey adalah salam damai,” kata Pepenk enteng.

Hingga sekarang ini, sudah ada sembilan album yang ditelurkan Djandhut Sagita. Tujuh album musik dangdut mulai dari Ngamen 1 hingga Ngamen 7, satu album musik Djandhut lagu anak-anak, dan satu album musik religi.

Meski berjudul Ngamen, ketujuh album itu berisi lagu-lagu dangdut pada umumnya yang sudah beredar di pasaran. Demikian juga dengan album anak-anak, juga menampilkan lagu yang sudah ada, namun dengan diiringi musik dangdut jaranan. Seperti lagu Balonku, Helly, Bangun Tidur, dan sebagainya.

Hal sama juga terjadi pada album religi yang ditampilkan oleh Sagita dengan penyanyi Eny Sagita. Mulai dari lagu Sluku-sluku Bathok, Tombo Ati, Sholawatan, Gus Dur, dan sebagainya. Lagu Gus Dur bukan ciptaan personel Sagita melainkan ciptaan dalang Pur dari Ngawi.

“Khusus untuk lagu Gus Dur ini sengaja kami aransemen sedemikian rupa, sehingga tampilan musiknya cukup enak didengarkan sesuai dengan pesan religi dari seorang kiai besar yang juga mantan Presiden RI,” tukas Pepenk.

Soal kontroversi sejumlah lagu yang dibawahkan Eny Sagita dan kini diributkan oleh KPID Jatim yakni lagu Iwak Peyek yang diambil dari lagu suporter itu tidak menjadi persoalan. Akan tetapi selayaknya sebelum melakukan penilaian dilihat terlebih dahulu dan dicari kebenarannya dari kalimat menthul yang dikonotasikan jorok. Ini dikarenakan kalimat menthul berasal dari nama topeng penthul yang dipakai penari kuda lumping. Di mana penari yang memakai topeng tersebut dinamakan lagi menthul.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. CATATAN HAYDAR ALI - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger